Memahami Trauma pada Masa Kanak-Kanak (Perspektif Psikologi)

Nurbaiti*

*Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala
Ketua Bidang Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan (BPPK) Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah VII (Aceh-Sumatera Utara)

Masa kanak-kanak merupakan masa penting dalam proses tumbuh kembang seseorang. Berbagai peristiwa yang dialami anak dari lingkungan keluarga dan lingkungan luar mempengaruhi perkembangan anak. Peristiwa yang dialami anak ada yang menyenangkan dan ada yang menyakitkan. Pengalaman luar biasa menyakitkan yang dialami anak melampaui kemampuan anak menanggungnya, adanya perubahan drastis dalam kehidupan anak, mengubah persepsi anak terhadap kehidupannya, dan adanya perubahan perilaku dan emosi pada anak disebut dengan pengalaman traumatis (Kirmayer, L. J., Lemelson, R., & Barad, M., 2007).

Pengalaman traumatis pada anak meliputi kejadian seperti bencana alam, kekerasan seksual, penyiksaan, pemerkosaan, kecelakaan yang mengerikan, dan peristiwa-peristiwa yang mengancam kelangsungan hidup. Pengalaman traumatis ini bisa menyebabkan trauma fisik dan juga trauma psikis. Reaksi terhadap kejadian yang menimbulkan stres tergantung pada pengalaman subjektif individu yang mengalaminya.

Gejala trauma pada anak yang perlu diperhatikan seperti: (1) anak usia kurang dari 2 tahun butuh digendong dan diperhatikan terus menerus, (2) anak umur 2-5 tahun merasa tak berdaya, mengekspresikan kejadian traumatik berulang-ulang, takut ditinggal, (3) anak usia 6-12 tahun membicarakan kejadian terus menerus, atau sebaliknya menghindar. Reaksi emosi dan perilaku pada anak meliputi perasaan tidak aman, merasa sendiri karena tidak ada yang memperhatikan, perasaan bersalah, hilangnya rasa percaya diri, regresi, merengek dan menangis, marah meledak-ledak, sensitif, berkelahi, mati rasa, cemas, depresi, ketakutan yang irrasional (sangat bervariasi tergantung usia).

Sebagian besar trauma pada anak berawal di rumah (Kirmayer, dkk., 2007). Penganiayaan kepada anak termasuk dalam bentuk kekerasan dan pengabaian oleh orang tua atau pengasuh anak memiliki potensi mempengaruhi masalah mental pada masa dewasa, khususnya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Terpaparnya anak dengan penganiayaan menambah dua kali lipat risiko menjadi korban kembali dan tiga kali lipat diagnosis PTSD (Dias, A., Sales, L., Mooren, T., Cardoso, R. M., & Kleber, R., 2017).

PTSD dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM-IV TR) didefinisikan sebagai suatu kejadian atau beberapa kejadian trauma yang dialami atau disaksikan secara langsung oleh seseorang berupa kematian atau ancaman kematian, cidera serius, ancaman terhadap integritas fisik atas diri seseorang. Kejadian tersebut harus menciptakan ketakutan yang ekstrem, horor, rasa tidak berdaya. Gejala PTSD bisa terdeteksi dari tiga kategori utama (Kirmayer, dkk., 2007), yakni:

  1. Mengalami kembali kejadian traumatis (re-experiencing), individu merasakan mengalami kembali kejadian traumatis yang pernah ia alami. Hal ini dapat mengganggu fungsi normal individu seperti seseorang menjadi sulit tidur dan mimpi buruk.
  2. Penghindaran (avoidance), individu menghindari stimulus yang mirip dengan peristiwa traumatis. Contohnya anak yang trauma akibat kekerasan seksual oleh saudara kandung laki-lakinya, anak menghindar untuk berkomunikasi dengan seseorang yang berjenis kelamin sama dengan pelaku.
  3. Gejala ketegangan (hyperarousal), anak-anak dapat memiliki reaksi ekstrim untuk trauma, akan tetapi gejala yang ditunjukkan tidak sama dengan orang dewasa. Pada anak-anak yang sangat muda, gejala-gejala ini dapat meliputi mengompol, tidak mampu untuk berbicara, memerankan peristiwa menakutkan selama bermain, sulit konsentrasi, menjadi sangat menempel dengan orang tua atau orang dewasa lainnya.

Terpaparnya anak dengan peristiwa traumatis menjadi penyebab PTSD. Penelitian telah menunjukkan bahwa sebanyak 100% dari anak-anak yang menyaksikan pembunuhan orang tua atau kekerasan seksual mengembangkan PTSD. Demikian pula 90% anak-anak mengalami pelecehan seksual hampir selalu mengalami PTSD, 77% dari anak-anak terkena penembakan sekolah, dan 35% dari remaja perkotaan mengalami kekerasan masyarakat mengembangkan PTSD (dalam Wahyuni, 2016).

PTSD diakibatkan dari beberapa faktor baik faktor dari dalam (individu) maupun faktor dari luar (lingkungan). Kepribadian juga dianggap sebagai faktor pencetus terjadinya PTSD, seperti pesimisme dan introvert, menyalahkan diri sendiri, penyangkalan. Brewin, Andrews, dan Valentine (dalam Wahyuni, 2016) mengatakan banyak faktor resiko yang membuat seseorang lebih mungkin menjadi PTSD, yakni : a) selama hidup pernah mengalami peristiwa berbahaya yang membuat trauma, b) memiliki sejarah penyakit mental, c) melihat orang terluka atau terbunuh, d) merasa horor, ketidakberdayaan, atau ketakutan ekstrim, e) minimnya dukungan sosial, f) mengalami kejadian menyedihkan setelah kejadian, seperti kehilangan orang yang dicintai, atau kehilangan pekerjaan atau rumah.

Pengabaian anak memiliki pengaruh negatif terhadap perkembangan sistem saraf yang mengganggu perkembangan kognitif anak, meningkatkan penyakit somatis yang dihubungkan dengan PTSD. Berdasarkan hasil penelitian ada perbedaan profil kemampuan kognitif anak yang mengalami PTSD dibandingkan anak yang depresi (Valencia, M. B., Delgado, L. C., Castillo, E. T., & Boyle, M., 2017).

Trauma, khususnya trauma pada awal kehidupan individu adalah faktor risiko perkembangan PTSD dan psikotik. Powers, A., Fani, N., Cross, D., Ressler, K. J., dan Bradley, B. (2016) menemukan bahwa secara tidak langsung pengaruh dari PTSD adalah dari berbagai kekerasan seksual, gejala PTSD berhubungan dengan psikotik dari pengalaman trauma di awal kehidupan .

Ketidakhadiran orang tua dalam peristiwa penting pada anak juga mempengaruhi perkembangan anak. Anak memiliki anggapan bahwa orangtua tidak memberikan perhatian, mengalami penolakan, hubungan dengan orangtua relatif dingin, anak merasa tidak nyaman saat berada bersama orangtua, tidak ingin menjalin hubungan dekat dengan orangtua, dan anak sukar mempercayai orangtua. Anak-anak dengan avoidant attachment ini cenderung menghindari orang tua dan pengasuh. Anak-anak ini mungkin tidak menolak perhatian dari orang tua, tetapi mereka mencari kenyamanan. Dampak ketidakhadiran orang tua dan perceraian orang tua menyebabkan trauma pada masa kanak-kanak yang erat kaitannya dengan PTSD di masa dewasa, karena anak kemungkinan menampilkan respon stres berlebihan terhadap konflik (Bryant, R. A., Creamer, M., Donnell, M., Forbes, D., Felmingham, K. L., Silove, D., Malhi, G., Hoof, M., McFarlane, A. C., & Nickerson A., 2017).

Tidak semua korban trauma menjadi PTSD, ada beberapa orang dengan berjalannya waktu bisa terlepas dari peritiwa trauma. Tetapi ternyata cukup banyak individu terutama anak-anak tidak mampu terlepas dari trauma dan rentan mengalami PTSD. Faktor protektif yang dapat mencegah PTSD pada anak meliputi: dukungan lingkungan dari teman-teman dan keluarga, menemukan kelompok pendukung setelah peristiwa traumatis, dan tidak menyalahkan. Sedikitnya terpapar dengan peristiwa traumatis, kemampuan untuk menempatkan trauma ke dalam konteks spasiotemporal, serta kemampuan sistem kognitif-emosional dalam memproses peristiwa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan juga memungkinkan anak untuk tidak mengalami PTSD (Kirmayer, dkk., 2007).

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bryant, R. A., Creamer, M., Donnell, M., Forbes, D., Felmingham, K. L., Silove, D., Malhi, G., Hoof, M., McFarlane, A. C., & Nickerson A. (2017). Separation from parents during childhood trauma predicts adult attachment security and post-traumatic stress disorder. Psychological Medicine, 47, 2028–2035.

Dias, A., Sales, L., Mooren, T., Cardoso, R. M., & Kleber, R. (2017). Child maltreatment, revictimization and post-traumatic stress disorder among adults in a community sample. International Journal of Clinical and Health Psychology, 17, 97-106.

Kirmayer, L. J., Lemelson, R., & Barad, M. (2007). Understanding trauma: Integrating biological, clinical, and cultural perspectives. New York: Cambridge University Press.

Powers, A., Fani, N., Cross, D., Ressler, K. J., & Bradley, B. (2016). Childhood trauma, PTSD, and psychosis: Findings from a highly traumatized, minority sample. Child Abuse & Neglect, 58, 111–118.

Valencia, M. B., Delgado, L. C., Castillo, E. T., & Boyle, M. (2017). Cognitive profiles of post-traumatic stress disorder and depression in children and adolescents. International Journal of Clinical and Health Psychology, 17, 242-250.

Wahyuni, H. (2016). Faktor resiko gangguan stress pasca trauma pada anak korban pelecehan seksual. Khazanah Pendidikan: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 10 (1), 1-13.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *