Kartini Wanita Tangguh Indonesia

Kartini Wanita Tangguh Indonesia

Bidang Pengembangan dan Pengkajian Keilmuwan Wilayah VIi         Periode 2018-2019

Raden Ayu Kartini atau lebih di kenal dengan nama Raden Adjeng Kartini merupakan salah satu pahlawan nasional.

Wanita kelahiran jepara, pada tanggal 21 April 1879 ini juga  adalah  keturunan bangsawan, Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara yaitu Sosroningrat.

Kartini sosok yang penuh hormat dan taat kepada kedua orang tuanya, itu terbukti dari pernikahanya dengan  sorang Bupati dari rembang yang menjadikannya istri ke-4, hal tersebut ia lakukan sesuai dengan titah sang ayah. Meskipun sudah menikah, status tersebut tidak membuat semangat juang yang berkobar dalam diri seorang Kartini goyah untuk memperjuangkan haknya sebagai seorang perempuan.

Kartini selalu menuangkan semangatnya dalam surat-surat yang dikirimkan kepada teman-temannya di Belanda. Kumpulan surat tersebutlah yang ia jadikan buku. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.

Kartini sosok wanita inspriratif yang mana berkat perjuangannya, perempuan Indonesia bisa menapaki jenjang pendidikan yang setara dengan laki-laki. Mengingat pada zaman penjajahan hanya orang-orang tertentulah yang bisa bersekolah, dan pemikiran tentang perempuan yang berpendidikan bukanlah hal yang penting padahal pendidikan yang pertama dikenal oleh anak adalah dari seorang ibu, jika seorang ibu tidak memiliki ilmu yang memadai untuk medidik anaknya, maka disitulah hancurnya generasi penerus bangsa. Dalam perjuangan Kartini untuk mengubah pemikirin tentang seorang perempuan yang berpendidikan sangatlah payah, mengingat dari isi surat kartini kepada Rosa manuela abendanon-Mandri, pada tanggal 8 agustus 1901 silam.

“Kami, gadis-gadis jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh memiliki satu impian dan itu adalah di paksa menikah  hari ini atau esok  dengan  lelaki yang dianggap orang tua kami patut mendampingi kami”

Dari kata-kata pada surat tersebut kita dapat melihat banyak kekecewaan yang dialami Kartini, dengan sikap para orang tua yang tidak mengizinkan anak perempuanya untuk mengenyam pendidikan yang layak pada masa itu dan dengan permintaan yang menyakitkan bagi anak perempuan yaitu untuk mengubur sedalam mungkin cita-cita yang didambakan untuk masa depannya.

Impian Kartini tentang pendidikan untuk perempuan pelan-pelan mulai terlihat. Perlahan, sarana pendidikan untuk perempuan terwujud. Sekolah pertama Kartini yang bernama Sekolah Kartini di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pun telah dibangun.  Meskipun dalam sistem pendidikannya masih sangat  sederhana:  yang mana mengajarkan muridnya menjadi orang yang baik dan pintar, dan tidak mendokrin untuk melawan Belanda.

Juga begitu dalam surat-surat Kartini yang ditemukan, beliau banyak menuliskan tentang kegelisahan bagaimana kedudukan seorang perempuan Jawa dan keinginannya mengakses pendidikan pada masa itu,  yaitu era Belanda. Ternyata, hal itulah yang disukai oleh Pemerintah Belanda. Bagi Belanda, Kartini adalah sosok yang bisa dimunculkan dan memang seharusnya semua perempuan seperti Kartini: tidak berjuang memanggul senjata, menurut pada orang tua, dan memakai kebaya.

Pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengatakan, Kartini sebagai sosok perempuan pejuang versi Belanda memang berlatar belakang politis. Kemudian dipilihnya Kartini melalui Keputusan Presiden (Kepres) tahun 1964 yang ditandatangani Presiden Soekarno, sebagai Pahlawan Nasional Perempuan memiliki unsur politik etis.

Dalam hal ini, kartini tidak membuat perempuan lebih tinggi dari laki-laki dan tidak pula menyatakan sejajar atas kedudukanya, karena kartini juga menjunjung tinggi bahwa sosok laki-laki adalah pemimpin, dan hal itu membuat Kartini tetap di hargai dan diteladani dalam perjuangannya untuk perempuan Indonesia.

Untuk mengenang jasa Kartini, pemerintah menetapkan bahwa pada tanggal 21 April yang merupakan hari kelahiran sang pahlawan emansipasi wanita tersebut, dalam momen-momen ini banyak perempuan indonesia mengucap rasa syukurnya atas perjuangan Kartini dengan memperingati Hari Kartini. “Just believe in yourself, and you will be able to make it real, don’t waste your chance to change the world. Happy Kartini’s day to all Indonesian woman”.

 

*Menulislah!  karena dengan menulis, kamu tidak hanya dikenal                                    Tapi juga akan diingat, karena ia memberi bekas -anonymous-

Wilayah 7

Leave a Reply