Revolusi Mental Bagi Penderita ODHA Dari Pandangan Perspektif Psikologi Islam

Revolusi Mental Bagi Penderita ODHA Dari Pandangan Perspektif Psikologi Islam

 

Revolusi Mental Bagi Penderita ODHA Dari Pandangan Perspektif Psikologi Islam

Oleh : Indah Gustiani

*Mahasiswi Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta Staff BPPK Wilayah VII

 

AIDS merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeviciency Virus). Orang-orang dengan penyakit ini disebut dengan ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS.

Penyakit ini merupakan salah satu peyakit menular yang memematikan. Namun, penyakit ini tidak ditularkan melalui sentuhan atau pun sekedar  berjabat tangan. Penularannya bisa dari air liur, cairan kelamin dan darah. Penyakit ini dapat timbul pada diri individu akibat seringnya bergonta-ganti pasangan dalam hubungan seksual yang tidak sehat, baik pasangan berlawanan jenis maupun sesama jenis, dan lain-lain sebagainya.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penderita AIDS terbanyak di dunia. Menurut Departemen Kesehatan Indonesia pada Maret 2017, jumlah penderita AIDS dilaporkan sebanyak 673 orang, dan persentase tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 38,6%, diikuti kelompok umur 20-29 tahun sebanyak  29,3%, dan kelompok umur 40-49 tahun sebanyak 16,5%.

Meskipun saat ini diketahui ada beberapa tempat rehabilitasi yang menyediakan fasilitas, pengobatan, dan dukungan bagi para ODHA, namun banyak pula para ODHA di luar sana yang tidak masuk ke dalam proses rehabilitasi tersebut. Para ODHA ini sering merasa dikucilkan dan dijauhi dalam lingkungan tempat mereka tinggal. Dengan begitu, para ODHA merasa bukan hanya tubuh mereka yang terganggu melainkan berdampak pula pada kesehatan mental mereka. Mereka sering merasa minder dan putus asa dalam kehidupan sehari-hari untuk melakukan aktifitas bahkan untuk melanjutkan hidup, sehingga banyak penderita HIV/AIDS yang merasa tidak mampu menghadapi realitas hidup mereka sendiri.

Sebagai individu yang peduli dengan ODHA perlu mengetahui bahwa yang dihindari dan dicegah adalah penyakitnya bukan penderitanya. Meskipun pada dasarnya penyakit mematikan ini belum ada obatnya, tetapi ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup bagi para ODHA. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengobatan khusus, terapi, serta dukungan, sehingga para penderita tidak merasa frustasi dan dilanda keputusasaan.

Salah satu cara efektif yang dilakukan adalah dengan adanya terapi keislaman yang berguna untuk merevolusi mental manusia dalam perspektif psikologi islam (Purwanto, 2016). Revolusi mental berarti merombak keadaan kejiwaan sehingga bisa menjadi jiwa yang tangguh, siap kerja dan tahan terhadap stress. Dalam ajarannya, ia menekankan pada believe system yang disebut dengan Iman. Dengan menekankan keimanan dan menghadirkan Allah dalam setiap urusan dan aktifitas, maka penderita ODHA dapat meningkatkan kualitas dirinya. Maka dari itu, sebaiknya dilakukan berbagai tindakan yang dapat membantu meningkatkan semangat hidup bagi para penderita dengan cara peduli terhadap mereka dengan memberikan kasih sayang dan penghargaan yang dapat mendukung mereka untuk terus melanjutkan hidup.

Wilayah 7

Leave a Reply