Agresivitas Geng Pada Anak Sekolah Dasar

Agresivitas Geng Pada Anak Sekolah Dasar

Agresivitas Geng Pada Anak Sekolah Dasar
Oleh : Elvi Diana Putri
Universitas Medan Area, Staff BPPK Wil VII

Keberadaan geng baik laki-laki atau perempuan tidak bisa dielakkan dalam kehidupan era globalisasi saat ini. krisis yang mengkhawatirkan dalam masyarakat saat ini yang melibatkan orang-orang yang paling berharga yaitu anak-anak. Semua pihak menyuarakan kekhawatiran yang sama, terutama bagi para pendidik, orangtua, pemuka agama dan masyarakat umum. Terdapat begitu banyak berita-berita berisi tragedi yang mengejutkan dan data statistik mengenai anak-anak yang membuat para orangtua merasa takut dan khawatir (Borba, 2008), terlebih lagi telah munculnya geng pada anak-anak.

Proses terbentuknya geng bagi mereka memiliki asal mula yang berbeda-beda, salah satunya yaitu karena ada rasa cocok dan adanya kesamaan minat atau hobi. Sekali salah memilih seorang teman atau geng berteman, maka masa depan mereka bisa rusak disebabkan oleh teman-teman satu geng itu sendiri yang telah salah dalam memilih jalan hidup. Juga sebaliknya, bila mereka mampu memilih dan memilah teman-teman yang berada dalam geng yang baik, maka bisa di jamin masa depan mereka akan baik.

Masa kanak-kanak akhir, menurut Hurlock (1997), adalah masa yang berlangsung dari umur 6-12 tahun. Pada usia ini anak memasuki dunia sekolah dimana akan terjadi perubahan besar pola kehidupan anak. Akhir masa kanak-kanak sering disebut sebagai “usia berkelompok” karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk untuk diterima sebagai anggota kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

Hurlock (1997) mengatakan keanggotaan kelompok dapat menimbulkan akibat yang kurang baik pada anak-anak, empat di antaranya sangat sering terjadi dan cukup berbahaya sehingga dapat mengganggu proses sosialisasi. Pertama, menjadi anggota geng sering kali menimbulkan pertentangan dengan orang tua dan penolakan terhadap standar orang tua, sehingga akan memperlemah ikatan emosional antara kedua pihak. Kedua, permusuhan antara anak laki-laki dan perempuan semakin meluas. Biasanya geng anak-anak terdiri dari anak-anak sejenis, tetapi beberapa anak menyukai pertemanan dengan lawan jenis, sehingga mereka takut timbul sikap yang tidak menyenangkan dari anggota kelompoknya. Ketiga, kecenderungan anak yang lebih tua untuk mengembangkan prasangka dan diskriminasi terhadap anak yang berbeda secara rasial, agama, dan sosial ekonomi. Keempat, seringkali bersikap kejam terhadap anak-anak yang tidak dianggap sebagai anggota geng. Banyaknya rahasia yang ada di antara anggota geng dimaksudkan untuk menjauhi anak yang tidak disenangi.

School Bullying menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) adalah perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Di Amerika saja diketahui bahwa 1 dari 4 siswa menjadi korban penggencetan setiap harinya. School Bullying Statistics juga menemukan bahwa dalam 85 persen kasus bullying tidak dihentikan oleh tenaga pendidik dan tenaga pendidikan.
Bullying oleh sesama murid biasanya berlangsung secara berkelompok. Bahkan menurut penelitian lintas negara yang dilakukan Craig dkk., anak yang menjadi korban bullying cenderung terlibat dalam penggencetan anak lain. Ini berarti sebuah lingkaran tanpa akhir ketika korban berubah menjadi pelaku. Dengan begitu, praktek kekerasan menjadi budaya di kalangan anak-anak.

Perlakuan yang kurang baik tidak hanya ditujukan kepada anak yang bukan anggota kelompok. Di setiap kelompok banyak terjadi perkelahian antaranggota-anggotanya. Seringkali anak-anak tidak saling berbicara dengan temannya. Bila anak bertengkar dengan teman sekelompok, terdapat kecenderungan bagi kelompok untuk menolak bermain dengan anak yang dimusuhi oleh kelompok. Adakalanya pertengkaran ini hanya bersifat sementara dan kemudian hubungan pertemanan terjalin lagi. Adakalanya pula ketegangan hubungan menetap dan anak yang menjadi sasaran permusuhan kelompok dibuat merasa tidak diterima sebagai teman bermain sehingga keluar dari kelompok. Biasanya anak yang populer lebih sering berganti teman dibandingkan anak yang tidak populer. Alasan yang sering membuat anak berganti teman adalah pertengkaran, kesukaan memerintah, ketidaksetiaan, kecurangan, kesombongan, dan ketidakcocokan. Hal ini didukung oleh pendapat Gottman dkk, “Anak yang populer lebih pandai mencari teman”.

Anak-anak yang pada umumnya memasuki periode akhir masa kanak-kanak dan berminat dalam keanggotaan kelompok, mereka sangat terpukau dengan anggapan bahwa mereka harus menyesuaikan diri dengan standar dalam penampilan, berbicara, dan berperilaku seperti yang ditetapkan oleh kelompok. Karena takut akan kehilangan dukungan dari anggota-anggota kelompok, mereka berusaha menyesuaikan dengan baik bahkan kadang-kadang berlebihan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Tolunay (2006) yang menyatakan bahwa individu akan dipengaruhi oleh mayoritas pendapat dari kelompok. Banyak perilaku agresif yang dilakukan karena tuntutan dari mayoritas pendapat kelompok tersebut.
Menurut Berkowitz (2003), salah satu faktor penyebab atau stimulus munculnya perilaku agresif adalah pengaruh kelompok (geng). Dalam kelompok atau geng, anak-anak merasa dapat penerimaan dan status, mereka merasa penting dalam geng, sementara di tempat lain tidak berharga. Mereka juga mendapatkan dukungan bahwa pandangan dan sikap mereka bersama itu benar, bahkan bahaya yang mereka takuti dapat teratasi. Dukungan ini memainkan peran penting pada perilaku agresif anak. Seorang anak yang mengalami penyimpangan sosial mungkin tidak berani melanggar aturan, tetapi jika bersama teman-teman anggota geng, ia merasa berani dan aman.

Agresi seringkali digunakan oleh manusia sebagai jalan untuk mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan persoalan. Agresi terjadi dimana saja seperti perkelahian antar pelajar, antar kampung bahkan antar negara. Agresi juga terjadi pada anak. Saat bermain anak saling bertengkar dan mengejek, memukul atau melempar. Penelitian terdahulu menunjukkan agresi pada anak dapat terbentu karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau tidak langsung yang dilakukan ayah terhadap ibu dan anaknya sebagaimana penelitian Hartini (2009) bahwa anak mengadopsi perilaku agresinya dari hasil belajar melalui pengamatan anak kepada orang tua serta anak dapat meniru semua tingkah laku orang tua yang didapatinya dari kekerasan tersebut.
Agresi pada anak juga terjadi akibat pengaruh media massa yang berisi kekerasan (tayangan film). Hasil penelitian Santhoso (1994) di Kota Madya Yogyakarta menunjukkan ada korelasi antara minat terhadap film kekerasan dengan kecenderungan perilaku agresi. Demikian juga menurut Santrock (2002) dan Kirsh (2006) bahwa tayangan kekerasan di televisi yang terus menerus ditonton oleh anak-anak menyebabkan meningkatnya agresi pada anak-anak.

Tayangan televisi dengan tema kehidupan anak remaja, yang umumnya menampilkan gaya hidup kaum elit dengan segala kemewahan, konsumerisme, dan kekerasan telah menjadi model dan tak jarang dicontoh dalam kehidupan nyata anak-anak usia sekolah dasar. Hal ini juga terungkap dalam komunikasi personal dengan Ratna (bukan nama sebenarnya) seorang guru sekolah dasar, berikut ini: “saya kira adegan-adegan anak sekarang yang bergeng-geng itu cuma ada di sinetron, ternyata itu memang udah terjadi di anak-anak sekarang, waktu itu saya jalan pulang ngajar saya lihat anak-anak itu satu kelompok mau naik becak, mereka ngompasin satu anak yang sedang jalan, lima ratus masing-masing, itu anak SD” (Komunikasi Personal, Medan, 12 Januari 2009). Menurut Borba (2008) hal ini dapat disebabkan karena para orangtua melewatkan satu bagian yang sangat penting yaitu sisi moral dalam kehidupan anak.
Geng menjadi suatu wadah yang luar biasa apabila bias mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat semu, buta dan destruktif, yang pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri. Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau yang terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada.

Wilayah 7

Leave a Reply