Kepribadian Generasi Millenial

Kepribadian Generasi Millenial

KEPRIBADIAN GENERASI MILLENIAL

Oleh : Elvi Diana Putri

*Mahasiswi Psikologi Universitas Medan Area serta Staff BPPK Wilayah VII

 

Kepribadian adalah kata yang begitu umum dipakai di dunia Psikologi, kepribadian seseorang bisa dinilai dari kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari berbagai orang dalam berbagai keadaan. Berbicara masalah keperibadian, merupakan suatu cermin dan gambaran bagi setiap manusia. Jika keperibadiannya bagus, maka akan bagus pula tingkah laku yang dimiliki oleh orang tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika keperibadian orang tesebut buruk maka otomatis akan di ikuti oleh perilakunya yang buruk tersebut.

Kepribadian merupakan salah satu hal yang perlu perhatian lebih khusus pada generasi millenial. Generasi millenial adalah kelompok demografi yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga akhir 1990-an. Generasi ini identik dengan peningkatan penggunaan terhadap alat komunikasi, media dan teknologi digital. Beberapa kebiasaan generasi milenial yang tidak terkontrol dapat mengancam kondisi kesehatan. Salah satunya adalah masalah kesehatan mental.

Generasi millenial memiliki karakter suka tantangan, cepat dan ambisius. Ironisnya, generasi milenial lebih rentan mengalami gangguan kepribadian atau kejiwaan daripada generasi sebelumnya. Rasa tidak puas terhadap pekerjaan dan lingkungan yang kemudian mendorong mereka lelah secara mental. Jika tidak memiliki manajemen emosi yang baik, kelelahan mental dapat menyebabkan rasa rendah diri, putus asa, bahkan memicu dorongan untuk bunuh diri.

Dr. Andri menyatakan, generasi milenial rentan mengalami gangguan jiwa yang disebut sebagai borderline personality disorderBorderline personality disorder atau gangguan kepribadian ambang berefek kepada hubungan interpersonal seseorang dengan orang lain. Terdapat hubungan antara karakter kepribadian generasi millenial dan faktor tuntutan lingkungan yang menyebabkan gangguan jiwa ini.

“Kebanyakan pasien gangguan kepribadian ambang dari generasi milenial ini biasanya kesulitan membina hubungan interpersonal. Mereka self-center dan ingin selalu menjadi pusat perhatian sehingga tuntutan pergaulannya menjadi tinggi,” urai dr. Andri.

Ia meneruskan, tuntutan pergaulan saat ini mengharuskan generasi millenial untuk tampil asyik, heboh dan seru. Padahal, bisa jadi kepribadian aslinya bukan sosok yang seperti itu.Akibat tidak bisa memenuhi tuntutan harus asyik, heboh dan seru, tidak sedikit generasi millenial yang akhirnya mengalami krisis percaya diri. Jika kondisi ini berlanjut tanpa mendapat penanganan, sangat mungkin generasi millenial mengalami depresi akibat gangguan kepribadian ambang.Tak hanya itu, gangguan kepribadian ambang juga membuat mereka lebih sulit membina hubungan interpersonal yang baik dengan keluarga maupun kelompok. Padahal pada hakekatnya setiap manusia di dunia ini pasti memerlukan orang lain, oleh karena itu terjadi sosialisasi antar sesama manusia tersebut, yang mana berfungsi sebagai sarana kedekatan antar sesamanya.

Carl Rogers menggambarkan pribadi yang sehat adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.Tokoh lainnya seperti Gordon Allportmemandang satu pribadi positif dan apa adanya merupakan salah satu definisi pribadi sehat.

Meskipun cara pandang dalam memahami kepribadian sehat menurut para tokoh psikologi berbeda, tetapi sebagian besar dalam teori mereka menyebutkan persamaan ciri untuk individu yang sehat, yaitu individu tersebut tetap hidup di saat ini, bukan dimasa lalu; hidupnya digerakkan oleh tujuan, memiliki persepsi yang objektif, memiliki tanggung jawab terhadap orang lain serta melihat kesempatan dalam hidup sebagai tantangan, bukan ancaman. Secara universal, orang dikatakan memiliki kepribadian sehat adalah orang yang dinilai sehat dari berbagai macam aspek, baik itu aspek psikologis, sosial, fisik, maupun religiusnya.Generasi millenial diharapkan dapat memahami arti pribadi yang sehat terlebih dahulu, agar tidak mudah terpancing hal-hal negatif dan akan terhindar dari gangguan-gangguan kepribadian.

 

 

Reference :

Siswanto. (2007). Kesehatan Mental-Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta : Penerbit ANDI.

Rochman, K. (2010). Kesehatan Mental.Yogyakarta : Fajar Media Press.

Suryabrata, S. (2015). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.

www.sehatfresh.com

 

Wilayah 7

Leave a Reply