NOTULENSI KULIAH WHATSAPP
“Waspada! Permasalahan Dalam Keluarga Di Tengah Pandemi Covid-19”
Narasumber: Ibu Lisdayani, M.Psi, Psikolog

Pemaparan Pembuka di berikan oleh Ibu Lisdayani, M.Psi, Psikolog
Assalamualaikum Semuanya, apakabar ?
Seperti yang kita ketahui sekarang ini kasus penularan penyakit COVID-19 yang di sebabkan oleh virus Corona membuat seluruh masyarakat menjadi cemas, parno dan khawatir akan kesehatannya sehingga pemerintah RI juga telah menentapkan berbagai kebijakan terkait upaya pencegahan, penularan, dan penyebaran virus COVID-19 di masyarakat salah satu bentuk kebijakan pemerintah adalah menetapkan kegiatan belajar, bekerja, yang dilakukan dari rumah. Penetapan ini dilakukan untuk mengurangi resiko penularan dan penyebaran COVID-19 di masyarakat yang sangat tinggi yang sudah sampai tahap yang mengkhwatirkan. Oleh karena ini, berita mengenai COVID-19 yang beredar di kalangan masyarakat tidak jarang menyebabkan masalah kesehatan mental dan psikologis yang dialami oleh masyarakat. Hal ini ditandai oleh rasa takut yang tinggi,cemas,curiga, khatir yang berlebihan, gangguan tidur, dan emosional yang tidak jelas. Bisa jadi kondisi ini terjadi ketika anggota keluarga menerima informasi yang tidak tepat dan dianggap menakutkan. Kesehtaan memandang bahwa masalah psikologis merupakan salah satu faktor psikologis penyebab munculnya berbagai kesehatan mentalpsikologis, fisik, dan sosial. Seseorang yang mengalami gangguan psikologis akan rentan mengalami penurunan daya tahan tubuh, dan juga cenderung curiga yang berlebihan pad alingkungan social yang beresiko menimbulkan konflik social. Kondisi ini saat berbahaya jika tidak disadari dengan baik oleh keluarga dan ditangani dengan tepat. Seperti yang kita ketahui, bahwa keluarga memiliki peran dan fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam hal untuk memenuhi keturunan sandang, pangan dan papan seluruh anggota keluarga
Berbagai fungsi keluarga yang harus dipenuhi untuk mencapai kesehatan seluruh anggota keluarga dari wabah covid 19 antara lain:
Fungsi Aveksi
Merupakan fungsi kelurga untuk memberikan kenyamanan emosional bagi anggota keluarga dan melindungi seluruh anggota keluarga dari stress. Fungsi ini dapat dipenuhi dgn cara dimana keluarga saling mengingatkan dan salimg mendengarkan satu sama lainnyauntuk mematuhi aturan pemerintahagar segala sesuatu dilakukan di rumah saja, social distancing baik itu dalam hal ibadah, belajar , bekerja dan lainnya.
Fungsi Social
Dimana fungsi keluarga itu sebagai guru atau pendidik untuk menanamkan kepercayaan,nilai,sikap dan petunjuk penyelesaian masalah. Fungsi ini dapat dapat dipenuhi dengan cara menyarankan agar keluarga mengurangi aktivitas di luar rumah, menghindari berita yang belum jelas kebenarannya, sehingga hal ini dapat mengurangi stress yang timbul di dalam keluarga.
Stress bisa menjdi sesuatu yang traumatis saat kita merasa tidak mampu mengatasinya. Ada beberpa kelompok yang rentan mengalami stress psikologis selama pandemic virus covid19 adalah anak-anak, lansia, para petugas medis pada umumnya, ataupun orang dengan penyakit khusus lainnya. Selain stress tekanan yang berlangsung selama pandemic ini dapat menyebabkan gangguan berupa ketakutan, kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun keluarga. Rasa bosan dan stress karena terus menerus dirumah saja.
Adapun tips-tips dalam menjaga kesehatan mental psikologis selama pandemic virus Covid-19 yakni:
Melakukan aktivitas fisik (produktif) seperti berolahraga
Mengkonsumsi makanan yang bergizi
Menghentikan kebiasaan buruk
Serta tetap menjaga komunikasi dengan keluarga
Selain itu ada pula beberapa tips yang dapat dilakukan terhadap pandemic COVID-19 ini yakni
Mengubah pandangan mengenai COVID-19 menjadi pandangan yang positif
Ciptakan atau bangun nilai-nilai optimism semangat dalam keluarga
Memperbaiki pola komunikasi antara anggota keluarga serta tingkatan ikatan emosional antara anggota keluarga, kekompakan dan hal lainnya.
Ambil nilai positif yang dapat dilakukan selama pandemic COVID-19, menjadi momentum perubahan kea rah yang lebih baik di dalam keluarga.
Setelah hal-hal tersebut maupun pandangan-pandangan positif sudah terbangun di dalam keluarga hal ini akan mempengaruhi kesehatan mental yang lebih baik. Karena hal tersebut mambangkitkan emosi-omosi yang positif dalam keluarga. Pada dasarnya hidup adalah tentang segala permasalahan dan problematic. Kita sebagai hamba yang beriman tidak dapat menolaknya, yang bisa kita lakukan adalah menyikapinya dengan hal yang tebaik yang kita punya.
Apabila ada yang ingin mengajukan pertanyaan di persilahkan untuk bertanya. Wassalamuálaikum Wr, Wb.

Pertanyaan dalam sesi pertama
Bagaimana cara mengurangi tingkat stress karena dirumah saja pada anak yg broken home? Dimana mereka selalu mendengar pertengkaran dan juga mendapatkan beberapa masalah di dalam rumah? Serta adanya aancaman mengenai keberlangsungan hidup bagi mereka apabila mereka memilih untuk tidak tinggal dirumah!
Jawaban Narasumber :
Setiap orang tentu menginginkan keluarga yang harmonis, aman, nyaman, tentram. Dalam hal ini kita sangat tahu bahwa anak membutuhkan peran orang tua dalam memberikan kasi sayang, perhatian, sandang, pangan dan hal lainnya. Namun tidak semua anak mendapatkan hal tersebut. akan tetapi terdapat suatu kondisi tertentu yang memang tidak dapat kita hindari seperti keadaan rumah yang tidak baik dan berdampak pada perkembangan psikologis anak tersebut. Mengatasi hal ini lingkungan perlu menyikapi hal tersebut, terutama ketika orangtua sedang ada masalahmaupun konflik janganlah dibahas di depan sang anak. Hal ini sangat tidak baik bagi kondisi psikologis sang anak. Orang tua mungkin dapat mencari tempat seperti suatu pojokan yang aman dan nyaman bagi mereka mengungkapkan perasaan serta emosi mereka serta mengontrol emosi mereka. Mengingat banyaknya tuntutan keluarga pada masa pandemi ini.
Untuk sang anak, anak dapat belajar mengendalikan diri, mengatasi emosinya karena tidak semua yang ia harapkan dapat terpenuhi. Serta belajar melihat dari sudut pandang orang lain mengapa suatu hal dapat terjadi. Selain itu anak perlu mendapatkan pendamping dirinya, seperti nenek, kakek, saudaranya yang lain. Jangan biarkan ia sendiri menghadapi hal tersebut. Selain itu anak juga perlu membuat kegiatan positif ataupun bergabung kedalam lingkuangan yang positif, jangan lari dari kenyataan karena hal itu tidak menyelesaikan masalah dan dapat menimbulkan masalah lain dalam keluarga.

Bagaimana mengatasi rasa emosional yang mungkin muncul secara tiba-tiba tanpa terkontrol dikondisi sekarang ini, akibat dari misalnya tekanan tugas, banyaknya kegiatan yang bersifat online sehingga sulit untk istirahat karena kegiatan tidak memandang waktu.
Jawaban Narasumber :
Memang kegiatan kuliah belakangan ini mungkin dirasa sangat melelahkan dikarenakan banyakanya tuntutan tugas yang di berikan. Hanya saja disini kita mungkin akan berfokus pada bagaimana cara dalam mengatur waktu untuk mengatasi kuliah online tersebut mengingat banyaknyaknya sistem daring yang dilakukan dalam perkuliahaan. Selain itu bernegoisiasi dengan pihak yang bersangkutan seperti dosen juga merupakan suatu cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah kuliah sistem daring ini. memberikan pandangan positif terhadap sesi belajra ini juga di perlukan. Seperti menganggap hal tersebut sebagai sesi latihan belajar maupun menganggap hal tersebut sebagai suatu hal yang dapat mengisi waktu. Daripada hanya berdiam diri dirumah akan lenbih baik waktu yang kita miliki diisi dengan belajar.
Menghadapi hal ini semua kita juga dapat belajar untuk ikhlas, dengan menerima hal kenyataan yang ada. Apabila kita menolak hal tersebut, maka akan memunculkan tekanan emosi pada diri kita. Dengan belajar menerima serta tetap menjalankan kewajiban hal ini dapat mengurangi perasaan kesal maupun emosi yang timbul.

Dalam masa pandemi saat ini, kira-kira apa solusi yang dapat diberikan kepada mahasiswa yang memiliki rasa cemas yg berlebihan. Mengingat pada masa sekarang kita tau bahwa tekanan menjadi dua kali lipat bertambah, serta banyaknya faktor yang menjadi pendorong salah satunya pemicu konflik pada keluarga. Serta apa solusi agar kecemasan tidak berdampak pada kondisi kesehatan
Jawaban Narasumber :
Membuang fikiran yang bersifat negatif merupakan cara yang dapat dilakukan dalam situsi seperti ini. karena semua hal yang ada seperti cemas maupun kekhawatiran mengingat kondisi yang belum jelas dan ambigu. Apakah Kondisi saat ini yakni COVID-19 akan berlalu atau tidak? yang menimbulkan kecemasan di setiap orang. Belajar menumbuhkan pandangan positif, kendali diri maupun mengontrol diri dapat menurunkan munculnya perasaan cemas yang berdampak buruk pada kesehatan
Memikirkan suatu yang belum pasti akan memunculkan kekhawatiran, karena kekhawatiran ini akan muncul terus menerus akibat dari pemikiran sesuatu hal yang belum pasti. Selain itu pemikiran-pemikiran mengenai hal-hal yang belum pasti juga dapat memunculkan kecemasan karena belum mendapatkan solusi maupun suatu jawaban yang pasti dan jelas. Untuk itu kita dapat mempelajari kembali setiap permasalahan yang muncul serta mengenali diri sendiri. Di sertai dengan menjaga kesehatan, menjaga pola tidur, pola makan yang sehat serta teratur, berolahraga serta mencari teman yang dapat kita percayai dalam meluapkan perasaan kita. Diharapkan kita mampu menyikapi setiap permasalahan yang muncul karena kita sendiri akan tau bagaimana cara kita dapat menghadapi suatu masalah maupun perasaan negatif yang muncul.

Pertanyaan Dalam Sesi ke-2
Bagaimana dampak psikologis yang terjadi kepada orang tua (terkhusus bagi orang tua yang sudah berumur 50 tahun ke atas) terhadap COVID-19 ini? Dan apakah teori pendukung mengenai dampak tersebut?
Jawaban Narasumber :
Menurut hal yang dimuat dalam Inter-Agency Standing Committee (IASC) yaitu bahwa dalam wabah apa pun, wajar jika orang merasa tertekan dan khawatir sebagai dampak dari situasi yang sedang dihadapi. Respons umum dari orang – orang yang ikut terdampak (baik secara langsung atau tidak) terhadap wabah COVID-19 ini antara lain:
Takut jatuh sakit dan meninggal
Tidak mau datang ke fasilitas layanan kesehatan karena takut tertular saat dirawat
Takut kehilangan mata pencaharian, tidak dapat bekerja selama isolasi, dan dikeluarkan dari pekerjaan
Takut diasingkan dari masyarakat/dikarantina karena dikait-kaitkan dengan penyakit (seperti rasisme terhadap orang yang berasal dari, atau dianggap individu tersebut berasal dari tempat-tempat terdampak)
Merasa tidak berdaya untuk melindungi orang-orang terkasih dan takut kehilangan orang-orang terkasih karena virus yang menyebar
Takut terpisah dari orang-orang terkasih dan pengasuh karena aturan karantina
Menolak untuk membantu mengurusi anak kecil yang sendirian atau terpisah, penyandang disabilitas atau orang berusia lanjut karena takut infeksi, karena orang tuanya atau pengasuhnya telah dikarantina
Merasa tidak berdaya, bosan, kesepian dan depresi selagi diisolasi
Takut mengalami pengalaman yang sama seperti pada wabah sebelumnya
Kemungkinan kambuhnya gangguan kesehatan jiwa dan penyalahgunaan obat – obat serta akibat negative lainnya sebagai akibat dari individu yang menghindari fasilitas kesehatan atau tidak dapat menjangkau tenaga kesehatan yang sesungguhnya
Keadaan mental individu yang tidak stabil, seperti Individu semakin mudah terpancing amarah, permusuhan, bahkan rasa ragu sebagai pengaruh dari banyaknya informasi – informasi yang diterima, baik dari pemerintah ataupun otoritas lain.

2. Jika didalam suatu keluarga dimana didalam keluarga tersebut selama pandemi berlangsung, banyak kejadian yg terjadi didalam keluarga itu, seperti keributan, permasalahan, tidak ada suatu dukungan, dorongan, motivasi, ataupun sikap positif yg bisa diambil selama dirumah. Bahkan orang tua tersebut tidak mengerti bagaimana keadaan yg terjadi pada anggota keluarganya tersebut seperti psikologis yg terjadi pada anak yang mereka terima saat ada kejadian yg tidak diinginkan, dimana salah satu dari anak tersebut mengalami tidak tahan dan mengalami stres dengan keadaan yg terjadi, merasa tidak nyaman untuk berada ditengah – tengah lingkungan keluarga tersebut, tidak ada tempat untuk berbagi cerita, dan merasa kurang percaya kepada keluarga tersebut, dan juga tidak pernah konsen untuk mengerjakan apapun yg dikerjakan bahkan dalam belajarnya sekalipun. Menurut Ibu bagaimana cara menangani permasalahan tersebut baik dalam orang tua yg tidak bisa mengerti, dan kurang memberi perhatian pada keadaan keluarganya dan pada anak yg mendapatkan dampak psikologis dari situasi dan tidak ada dukungan dari orang tua yg diterima selama pandemi saat ini. Dimana yg kita tahu, keluarga seharusnya adalah tempat seorang anak untuk bercerita.

Jawaban Narasumber :
Dasar dari sebuah hubungan yang baik itu antara lain adalah : adanya komunikasi yang efektif antar satu dan yang lainnya. Dimana komunikasi dan interaksi yg terjalin itu berjalan dengan sebagaimana mestinya , namun bila tidak seperti itu maka banyak hal yang akan terjadi.

Kesimpulan
Situasi yang memburuk akibat pandemi covid19 membuat pemerintah indonesia menetapkan kebijakan kebijakan untuk menanggulangi dan mencegah penularan virus tersebut. Salah satu kebijakan tersebut adalah belajar, bekerja dan ibadah dirumah.
Dengan melakukan aktivitas dirumah, maka tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut dapat menyebabkan masalah dan efek psikologis masyarakat diantaranya cemas, takut, khawatir dan gangguan emosi.
Kondisi psikologis yang memburuk maka akan berdampak pada daya ketahanan tubu, oleh karena itu penting sekali bagi keluarga untuk sadar dan peka tentang kondisi dalam anggota keluarganya. Keluarga adalah tempat pertama yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Untuk itu perlu diketahui beberapa fungsi keluarga yaitu fungsi aveksi untuk saling mengingatkan, fungsi sosial yaitu keluarga menjadi tameng ke dunia luar.
Dari efek psikologis tersebut, yang paling berbahaya adalah dapat mengakibatkan stress. Untuk dapat mengatasinya bisa dengan meningkatkan aktivitas olahraga, makan makanan bergizi dan mengurangi kebaikan buruk seperti merokok dan begadang.

Penutup yang disampaikan oleh Fika Ayu Syafitri selaku moderator.
Baik, Pertanyaan dan jawaban di atas menandai berakhirnya sesi diskusi kita bersama Narasumber. Kami selaku tim dari ILMPI Wilayah 7 mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penyelenggaraan acara, pun saya selaku moderator apabila ada kekurangan dalam memfasilitasi diskusi, termasuk mungkin jika ada pertanyaan yang belum terjawab. Kami akan melampirkan notulensi dari rangkaian Kulwa yang telah dilaksanakan untuk menambah informasi bagi kita semua, terkhusus pada teman-teman peserta Kulwa pada hari ini.
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas partisipasi yang luar biasa dari teman-teman semuanya. Mari kita jaga diri dan lingkungan di sekitar, mulai dari hal kecil atau sederhana yang bisa dilakukan agar situasi ini dapat segera berakhir dan kita bisa melaluinya dengan baik.
Assalamualaikum wr.wb. Selamat sore

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *