Agresivitas Geng Pada Anak Sekolah Dasar

Agresivitas Geng Pada Anak Sekolah Dasar
Oleh : Elvi Diana Putri
Universitas Medan Area, Staff BPPK Wil VII

Keberadaan geng baik laki-laki atau perempuan tidak bisa dielakkan dalam kehidupan era globalisasi saat ini. krisis yang mengkhawatirkan dalam masyarakat saat ini yang melibatkan orang-orang yang paling berharga yaitu anak-anak. Semua pihak menyuarakan kekhawatiran yang sama, terutama bagi para pendidik, orangtua, pemuka agama dan masyarakat umum. Terdapat begitu banyak berita-berita berisi tragedi yang mengejutkan dan data statistik mengenai anak-anak yang membuat para orangtua merasa takut dan khawatir (Borba, 2008), terlebih lagi telah munculnya geng pada anak-anak.

Proses terbentuknya geng bagi mereka memiliki asal mula yang berbeda-beda, salah satunya yaitu karena ada rasa cocok dan adanya kesamaan minat atau hobi. Sekali salah memilih seorang teman atau geng berteman, maka masa depan mereka bisa rusak disebabkan oleh teman-teman satu geng itu sendiri yang telah salah dalam memilih jalan hidup. Juga sebaliknya, bila mereka mampu memilih dan memilah teman-teman yang berada dalam geng yang baik, maka bisa di jamin masa depan mereka akan baik.

Masa kanak-kanak akhir, menurut Hurlock (1997), adalah masa yang berlangsung dari umur 6-12 tahun. Pada usia ini anak memasuki dunia sekolah dimana akan terjadi perubahan besar pola kehidupan anak. Akhir masa kanak-kanak sering disebut sebagai “usia berkelompok” karena ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk untuk diterima sebagai anggota kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

Hurlock (1997) mengatakan keanggotaan kelompok dapat menimbulkan akibat yang kurang baik pada anak-anak, empat di antaranya sangat sering terjadi dan cukup berbahaya sehingga dapat mengganggu proses sosialisasi. Pertama, menjadi anggota geng sering kali menimbulkan pertentangan dengan orang tua dan penolakan terhadap standar orang tua, sehingga akan memperlemah ikatan emosional antara kedua pihak. Kedua, permusuhan antara anak laki-laki dan perempuan semakin meluas. Biasanya geng anak-anak terdiri dari anak-anak sejenis, tetapi beberapa anak menyukai pertemanan dengan lawan jenis, sehingga mereka takut timbul sikap yang tidak menyenangkan dari anggota kelompoknya. Ketiga, kecenderungan anak yang lebih tua untuk mengembangkan prasangka dan diskriminasi terhadap anak yang berbeda secara rasial, agama, dan sosial ekonomi. Keempat, seringkali bersikap kejam terhadap anak-anak yang tidak dianggap sebagai anggota geng. Banyaknya rahasia yang ada di antara anggota geng dimaksudkan untuk menjauhi anak yang tidak disenangi.

School Bullying menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) adalah perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Di Amerika saja diketahui bahwa 1 dari 4 siswa menjadi korban penggencetan setiap harinya. School Bullying Statistics juga menemukan bahwa dalam 85 persen kasus bullying tidak dihentikan oleh tenaga pendidik dan tenaga pendidikan.
Bullying oleh sesama murid biasanya berlangsung secara berkelompok. Bahkan menurut penelitian lintas negara yang dilakukan Craig dkk., anak yang menjadi korban bullying cenderung terlibat dalam penggencetan anak lain. Ini berarti sebuah lingkaran tanpa akhir ketika korban berubah menjadi pelaku. Dengan begitu, praktek kekerasan menjadi budaya di kalangan anak-anak.

Perlakuan yang kurang baik tidak hanya ditujukan kepada anak yang bukan anggota kelompok. Di setiap kelompok banyak terjadi perkelahian antaranggota-anggotanya. Seringkali anak-anak tidak saling berbicara dengan temannya. Bila anak bertengkar dengan teman sekelompok, terdapat kecenderungan bagi kelompok untuk menolak bermain dengan anak yang dimusuhi oleh kelompok. Adakalanya pertengkaran ini hanya bersifat sementara dan kemudian hubungan pertemanan terjalin lagi. Adakalanya pula ketegangan hubungan menetap dan anak yang menjadi sasaran permusuhan kelompok dibuat merasa tidak diterima sebagai teman bermain sehingga keluar dari kelompok. Biasanya anak yang populer lebih sering berganti teman dibandingkan anak yang tidak populer. Alasan yang sering membuat anak berganti teman adalah pertengkaran, kesukaan memerintah, ketidaksetiaan, kecurangan, kesombongan, dan ketidakcocokan. Hal ini didukung oleh pendapat Gottman dkk, “Anak yang populer lebih pandai mencari teman”.

Anak-anak yang pada umumnya memasuki periode akhir masa kanak-kanak dan berminat dalam keanggotaan kelompok, mereka sangat terpukau dengan anggapan bahwa mereka harus menyesuaikan diri dengan standar dalam penampilan, berbicara, dan berperilaku seperti yang ditetapkan oleh kelompok. Karena takut akan kehilangan dukungan dari anggota-anggota kelompok, mereka berusaha menyesuaikan dengan baik bahkan kadang-kadang berlebihan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Tolunay (2006) yang menyatakan bahwa individu akan dipengaruhi oleh mayoritas pendapat dari kelompok. Banyak perilaku agresif yang dilakukan karena tuntutan dari mayoritas pendapat kelompok tersebut.
Menurut Berkowitz (2003), salah satu faktor penyebab atau stimulus munculnya perilaku agresif adalah pengaruh kelompok (geng). Dalam kelompok atau geng, anak-anak merasa dapat penerimaan dan status, mereka merasa penting dalam geng, sementara di tempat lain tidak berharga. Mereka juga mendapatkan dukungan bahwa pandangan dan sikap mereka bersama itu benar, bahkan bahaya yang mereka takuti dapat teratasi. Dukungan ini memainkan peran penting pada perilaku agresif anak. Seorang anak yang mengalami penyimpangan sosial mungkin tidak berani melanggar aturan, tetapi jika bersama teman-teman anggota geng, ia merasa berani dan aman.

Agresi seringkali digunakan oleh manusia sebagai jalan untuk mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan persoalan. Agresi terjadi dimana saja seperti perkelahian antar pelajar, antar kampung bahkan antar negara. Agresi juga terjadi pada anak. Saat bermain anak saling bertengkar dan mengejek, memukul atau melempar. Penelitian terdahulu menunjukkan agresi pada anak dapat terbentu karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau tidak langsung yang dilakukan ayah terhadap ibu dan anaknya sebagaimana penelitian Hartini (2009) bahwa anak mengadopsi perilaku agresinya dari hasil belajar melalui pengamatan anak kepada orang tua serta anak dapat meniru semua tingkah laku orang tua yang didapatinya dari kekerasan tersebut.
Agresi pada anak juga terjadi akibat pengaruh media massa yang berisi kekerasan (tayangan film). Hasil penelitian Santhoso (1994) di Kota Madya Yogyakarta menunjukkan ada korelasi antara minat terhadap film kekerasan dengan kecenderungan perilaku agresi. Demikian juga menurut Santrock (2002) dan Kirsh (2006) bahwa tayangan kekerasan di televisi yang terus menerus ditonton oleh anak-anak menyebabkan meningkatnya agresi pada anak-anak.

Tayangan televisi dengan tema kehidupan anak remaja, yang umumnya menampilkan gaya hidup kaum elit dengan segala kemewahan, konsumerisme, dan kekerasan telah menjadi model dan tak jarang dicontoh dalam kehidupan nyata anak-anak usia sekolah dasar. Hal ini juga terungkap dalam komunikasi personal dengan Ratna (bukan nama sebenarnya) seorang guru sekolah dasar, berikut ini: “saya kira adegan-adegan anak sekarang yang bergeng-geng itu cuma ada di sinetron, ternyata itu memang udah terjadi di anak-anak sekarang, waktu itu saya jalan pulang ngajar saya lihat anak-anak itu satu kelompok mau naik becak, mereka ngompasin satu anak yang sedang jalan, lima ratus masing-masing, itu anak SD” (Komunikasi Personal, Medan, 12 Januari 2009). Menurut Borba (2008) hal ini dapat disebabkan karena para orangtua melewatkan satu bagian yang sangat penting yaitu sisi moral dalam kehidupan anak.
Geng menjadi suatu wadah yang luar biasa apabila bias mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat semu, buta dan destruktif, yang pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri. Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau yang terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada.

BAGAIMANA MENTAL YANG SEHAT ITU?

Oleh : Muhammad Ikhsan Azmi

*Mahasiswa Psikologi Universitas Medan Area. Staff Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan Ikatan Lembaga Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah VII (Aceh-Sumatera Utara)

Dewasa ini banyak sekali orang yang tak mengenal bagaimana sebenarnya definisi dari sehat mental dan bagaimana mental yang sehat itu. Bahkan banyak orang awam yang beranggapan bahwa, mental yang gak sehat itu adalah orang “gila”. Padahal, definisi orang yang memiliki mental yang tak sehat bukan hanya orang “gila” saja, orang normal pun bisa saja memiliki mental yang tidak sehat. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai mental yang sehat, terlebih dahulu kita akan membahas pengertian dari Kesehatan mental itu sendiri dan selanjutnya akan membahas mendetail mengenai kesehatan mental.

Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose). Menurut definisi ini, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang terhindar dari segala gangguan dan penyakit jiwa. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa orang yang menderita gangguan jiwa bila : sering cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, tidak ada kegairahan untuk bekerja, rasa badan lesu dan sebagainya. Gejala-gejala tersebut dalam tingkat lanjutannya terdapat pada penyakit anxiety, neurasthenia, hysteria dan sebagainya. Sedangkan sakit jiwa adalah orang yang pandangannya jauh berbeda dari pandangan orang pada umumnya, jauh dari realitas, yang dalam istilah sehari-hari kita kenal miring, gila dan sebagainya. Untuk mengetahui seseorang sehat atau terganggu mentalnya, tidaklah mudah, karena tidak mudah diukur, diperiksa atau dilihat dengan alat-alat seperti halnya dengan kesehatan badan. Biasanya yang dijadikan bahan penyelidikan atau tanda-tanda dari kesehatan mental adalah tindakan, tingkah laku atau perasaan. Karenanya seseorang terganggu kesehatan mentalnya bila terjadi kegoncangan emosi, kelainan tingkah laku atau tindakannya.

Orang yang sehat mentalnya adalah orang-orang yang mampu merasakan kebahagian dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasa bahwa dirinya berguna, berharga dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal mungkin, yang membawa kebahagiaan bagi  dirinya sendiri dan orang lain. Di samping itu, ia mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas (dengan dirinya, orang lain, dan suasana sekitar). Orang-orang inilah yang terhindar dari kegelisahan dan gangguan jiwa, serta tetap terpelihara moralnya.

Maka orang yang sehat mentalnya, tidak akan merasa ambisius, sombong, rendah diri dan apatis, tapi ia adalah wajar, menghargai orang lain, merasa percaya kepada diri sendiri dan selalu gesit. Setiap tindak dan tingkah lakunya, ditunjukkan untuk mencari kebahagiaan bersama, bukan kesenangan dirinya sendiri. Kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk  kemanfaatan dan kebahagiaan bersama. Kekayaan dan kekuasaan yang ada padanya, bukan untuk bermegah-megahaan dan mencari kesenangan diri sendiri, tanpa mengindahkan orang lain, akan tetapi digunakannya untuk menolong orang yang miskin dan melindungi orang yang lemah. Seandainya semua orang sehat mentalnya, tidak akan ada penipuan, penyelewengan, pemerasan, pertentangan dan perkelahian dalam masyarakat, karena mereka menginginkan dan mengusahakan semua orang dapat merasakan kebahagiaan, aman tentram, saling mencintai dan tolong-menolong.

Menurut WHO (World Health Organization) :

  1. Menyesuaikan diri secara konstruktif dengan kenyataan;
  2. Memperoleh kepuasan dalam usaha atau penjuangan hidup;
  3. Lebih puas memberi daripada menenrima;
  4. Bebas dari kecemasan atau ketegangan;
  5. Berhubungan dengan orang lain dengan saling tolong – menolong;
  6. Menerima kekecewaan dan kegagalan sebagai pelajaran;
  7. Mengarahkan rasa bermusuhan menjadi penyelesaian yang kreatif dan konstruktif;
  8. Mempunya rasa kasih sayang yang benar.

Diatas merupakan ciri-ciri dari seseorang yang mentalnya sehat, dan selanjutnya akan dipaparkan ciri-ciri seseorang yang kurang sehat mentalnya. Manusia yang kurang sehat ini sangat luas, mulai dari yang seringan-ringannya sampai kepada yang seberat-beratnya. Dari orang yang merasa terganggu ketentraman batinnya, sampai kepada orang yang sakit jiwa. Gejala yang umum, yang tergolong kepada yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi antara lain pada:

Perasaan       :   Yaitu perasaan terganggu, tidak tenteram, rasa gelisah, tidak tentu yang digelisahkan, tapi tidak bisa pula mengatasinya (anxiety); rasa takut yang tidak masuk akal atau tidak jelas yang ditakuti itu apa (phobi), rasa iri, rasa sedih, sombong, suka bergantung kepada orang lain, tidak mau bertanggung jawab, dan sebagainya.

Pikiran      : Gangguan terhadap kesehatan mental, dapat pula mempengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh di sekolah, pemalas, pelupa, suka bolos, tidak bisa konsentrasi, dan sebagainya. Demikian pula orang dewasa mungkin merasa bahwa kecerdasannya telah merosot, ia merasa bahwa kurang mampu melanjutkan sesuatu yang telah direncanakannya baik-baik, mudah dipengaruhi orang, menjadi pemalas, apatis, dan sebagainya.

Kelakuan  :   Pada umumnya kelakuan-kelakuan yang tidak baik seperti kenakalan, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng, mencuri, menyiksa orang, membunuh, dan merampok, yang menyebabkan orang lain menderita dan teraniaya haknya

Kesehatan : Jasmani dapat terganggu bukan karena adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani itu, akan tetapi rasanya sakit, akibat jiwa tidak tenteram, penyakit yang seperti ini disebut psychosomatic. Di antara gejala penyakit ini yang sering terjadi seperti sakit kepala, merasa lemas, letih, sering masuk angin, susah nafas, sering pingsan, bahkan sampai sakit yang lebih berat, lumpuh sebagian anggota jasmani, kelu lidah saat bercerita, dan tidak bisa melihat (buta) yang terpenting adalah penyakit jasmani itu tidak mempunyai sebab-sebab fisik sama sekali.

Menurut WHO (World Health Organization) ciri-ciri seseorang yang mentalnya kurang sehat adalah :

  1. Perasaan tidak nyaman;
  2. Perasaan tidak aman;
  3. Kurang memiliki rasa percaya diri;
  4. Kurang memahami diri;
  5. Kurang puas dalam berhubungan sosial;
  6. Ketidakmatangan emosi;
  7. Kurang bisa menerima kekurangan diri;

Diatas merupakan ciri-ciri/gejala yang terjadi apabila seseorang mengalami mental yang kurang sehat. Kesehatan mental merupakan suatu hal yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik, kedua hal tersebut harus sama-sama kita jaga. Karena, yang dinamakan sehat bukan hanya dari sehat fisik saja tetapi mental kita juga harus sehat. Dalam fase kehidupan ini, kita pasti akan memiliki masa-masa dimana kita merasakan sedih, kecewa, takut, atau merasa tertekan. Terkadang perasaan tersebut dapat hilang seiring dengan selesainya permasalahan yang telah kita hadapi. Namun ada juga beberapa hal yang membuat perasaan tersebut berlanjut hingga berkembang menjadi suatu hal yang sangat serius yaitu gangguan mental, seperti depresi, stress dan sebagainya. Maka dari itu kita harus memahami bagaimana permasalahan yang ada sehingga tidak mengganggu kesehatan mental kita. Kita juga harus selalu menjaga agar mental kita tetap sehat, jika kita rasa ada yang janggal dengan mental kita.

Ada beberapa cara praktis yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga kesehatan mental kita. Adapun cara-cara tersebut adalah :

  1. Menerima dan menghargai diri sendiri

Setiap individu itu berbeda dan unik, namun satu hal yang sama adalah tidak ada individu yang sempurna. Hargai diri kita sendiri. Kenali dan terima kelemahan yang kita miliki, namun fokuslah pada hal-hal yang menjadi kelebihan kita.  Bersikaplah lebih realistis terhadap hal-hal yang masih ingin kita ubah dalam diri kita. Jika hal tersebut dapat diubah, cobalah untuk mengubahnya secara perlahan.

 

  1. Menjaga hubungan baik

Tidak perlu berjuang sendirian saat kita menghadapi suatu masalah. Hubungan keluarga dan teman yang baik dapat membantu mengatasi tekanan dalam hidup karena dapat memberikan masukan serta membuat kita merasa diperhatikan. Tetaplah menjaga hubungan baik dengan selalu bertukar kabar lewat telepon, bertemu, dan saling bercerita.

 

  1. Aktif berkegiatan

Aktiflah bertemu dengan banyak orang dan tergabung dalam kegiatan baru  di lingkungan. Masuklah dalam komunitas, atur pertemuan dengan teman-teman,  atau ikuti kursus yang dapat membantu kita untuk merasa lebih baik. Ikut kegiatan yang bertujuan membantu orang lain juga dapat membuat kita merasa dibutuhkan dan menjadi semakin berharga. Hal ini membuat kepercayaan diri semakin  meningkat. Aktivitas seperti ini juga membantu kita melihat dunia dari pandangan yang berbeda sehingga membantu melihat masalah dari sudut pandang yang lain.

 

  1. Bercerita kepada orang lain

Bercerita mengenai perasaan yang dirasakan bukan menandakan bahwa kita lemah,  tetapi merupakan bagian dari usaha kita untuk menjaga kesehatan mental. Didengarkan oleh orang lain membuat kita merasa didukung dan tidak sendirian. Mungkin awalnya sulit, namun jika terus dilakukan maka akan terbiasa. Oleh karena  itu, carilah orang yang anda bisa ajak berbicara dengan santai dan kemukakan apa yang ada di kepala anda.

 

  1. Aktif bergerak

Temukan olahraga yang kita sukai dan mulai lakukan. Latihan pada badan dipercaya dapat mengeluarkan senyawa kimiawi di dalam otak yang membuat kita merasa lebih baik. Oleh karena itu, olah raga teratur dapat membuat kita merasa lebih positif, membantu konsentrasi, tidur, serta membuat kita merasa dan terlihat lebih baik.  Bergerak tidak harus dengan olahraga, namun dapat dilakukan melalui kegiatan lain seperti berjalan di taman, berkebun, atau melakukan pekerjaan rumah tangga.  Lakukan selama minimal 30 menit, 3 – 5 kali seminggu.

 

  1. Lakukan kegiatan yang dikuasai

Melakukan aktivitas yang kita sukai dan minati dapat membantu mengatasi tekanan. Aktivitas yang disukai adalah aktivitas yang kita kuasai dan dapat membantu kita  semakin percaya diri serta mengatasi emosi yang kita rasakan. Berkebun, memasak, melukis, bermain musik, berolah raga merupakan contoh aktivitas yang dapat membantu kita mengekspresikan diri. Cari aktivitas yang dapat membantu anda.

 

  1. Istirahat

Jika terlalu banyak kegiatan ternyata membuat kita tertekan, maka carilah waktu untuk istirahat dan santai. Dengarkan tubuh kita sendiri. Jika tubuh sangat lelah,  berikan waktu untuk tidur. Selain itu lakukan kegiatan seperti mendengarkan musik, membaca, menonton film, atau mencoba kegiatan baru yang menyenangkan. Anda juga juga dapat melakukan pengaturan pernapasan, yoga, atau meditasi. Menggunakan waktu 10 menit untuk istirahat dalam satu hari yang sibuk akan membantu kita mengatasi tekanan dengan lebih baik.

 

  1. Konsumsi makanan dan minuman sehat

Otak kita membutuhkan nutrisi agar tetap sehat dan berfungsi dengan baik, seperti organ yang ada di dalam tubuh kita. Melakukan diet yang seimbang dapat membantu kesehatan  mental kita karena dapat membantu cara berpikir dan cara kita merasakan sesuatu. Cobalah untuk mengkonsumsi 5 porsi buah-buahan dan sayuran setiap hari serta minum air putih. Minimalisir konsumsi minuman berkafein, berkadar gula tinggi, dan alkohol. Hindari makan, minum alkohol, merokok, dan menggunakan obat-obat terlarang untuk menyelesaikan masalah atau mengatasi perasaan tidak menyenangkan yang kita alami. Hal seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru sebaliknya akan menciptakan masalah baru.

 

  1. Minta bantuan 

Terkadang kita merasa lelah atau kewalahan saat sesuatu yang buruk terjadi. Saat  masalah sudah mulai berlebihan dan anda merasa tidak dapat mengatasi, mintalah  bantuan. Keluarga dan teman merupakan lingkungan terdekat yang dapat mendengarkan masalah anda. Selain itu anda juga dapat berdoa atau sembahyang. Jika anda mengalami masalah fisik, pergilah ke dokter. Begitu juga jika anda merasa memiliki masalah psikologis,  anda dapat berkonsultasi pada psikolog, psikiater, pemuka agama. Jangan malu untuk meminta pertolongan para ahli demi kesehatan mental yang baik. Setiap orang memerlukan bantuan dari waktu ke waktu dan tidak ada yang salah dari meminta bantuan. Kenyataannya, meminta bantuan merupakan tanda adanya kekuatan personal.

 

Hal-hal tersebut dapat kita lakukan untuk tetap mempertahankan mental yang sehat, tetapi jika kita sudah terlanjur parah dalam hal tersebut. Sebaiknya di konsultasikan ke psikolog atau psikiater, tetapi jika belum terlalu parah dan hanya perlu pencerahan atau tempat untuk menanyakan ataupun sharing permasalahan, dapat pergi ke psikolog dan konsultasikan permasalahan yang menurut anda sudah terlalu berat atau memiliki ciri mental yang kurang sehat tersebut.

 

Referensi :

http://psikologikita.com/?q=psikologi/menjaga-kesehatan-mental

http://dewi-kesmen.blogspot.co.id/2013/01/ciri-ciri-manusia-yang-sehat-mentalnya.html

Daradjat, Zakiah.1988. Kesehatan Mental. Jakarta :CV Haji Masagung.

https://www.kompasiana.com/yn1314/apakah-anda-sehat-mental_551838f3a333113007b6645f

 

Kekerasan seksual terhadap anak

Oleh: Nurbaiti

*Mahasiswi Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Koordinator Badan Pengembangan dan Pengkajian Keilmuan Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah 7, Aceh-Sumatra Utara.

Kekerasan seksual terhadap anak menjadi ancaman besar di Indonesia. Melonjaknya kekerasan seksual di Indonesia membuat semua orang harus waspada. Anak perempuan dan laki‐laki memungkinkan menjadi korban kekerasan seksual. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak dapat kita amati dari banyaknya kasus yang diberitakan di media dan juga kasus yang ditangai oleh lembaga hukum. Selain itu, masih banyak kasus kekerasan Read More